CEO Pertamina, Nicke Widyawati, menegaskan bahwa investasi pada pengembangan sumber daya manusia (SDM) adalah investasi jangka panjang yang paling berharga bagi organisasi. Dalam forum diskusi yang dihadiri para profesional muda, ia membagikan strategi pengembangan karir melalui program mentoring terstruktur. Baginya, kompetensi teknis harus diimbangi dengan soft skill kepemimpinan agar seorang eksekutif muda mampu bertransformasi menjadi pemimpin yang visioner. Program mentoring yang dijalankan Pertamina berhasil meningkatkan retensi talenta hingga 40%, membuktikan bahwa pendekatan personal dan pembinaan individu mampu menciptakan career path yang jelas bagi generasi penerus BUMN.
Mentoring sebagai Kunci Pengembangan Kompetensi
Nicke menekankan bahwa kunci sukses bagi profesional muda adalah kemauan belajar dari senior dan terus memperluas jaringan. Dalam lingkungan BUMN yang kompetitif, program mentoring menjadi jembatan antara pengalaman praktis dan teori manajemen. Berikut adalah poin-poin kepemimpinan yang dapat diambil dari strategi tersebut:
- Kemauan belajar aktif — Jangan ragu untuk bertanya dan meminta arahan dari mentor; setiap sesi mentoring adalah kesempatan untuk mengasah kemampuan analitis dan pengambilan keputusan.
- Perluas jaringan strategis — Bangun relasi dengan lintas divisi dan generasi; jaringan yang kuat mempercepat akses informasi dan peluang karir.
- Integrasi soft skill dan hard skill — Kompetensi teknis saja tidak cukup; kemampuan komunikasi, empati, dan kepemimpinan situasional harus diasah secara konsisten.
Program mentoring di Pertamina dirancang secara terstruktur, mulai dari pemetaan kebutuhan individu hingga evaluasi berkala. Hasilnya, talenta muda tidak hanya meningkat secara kompetensi, tetapi juga memiliki loyalitas lebih tinggi terhadap perusahaan. Bagi eksekutif muda, ini adalah bukti bahwa investasi pada pengembangan diri melalui mentoring berdampak langsung pada akselerasi karir.
Kepemimpinan Transformasional Dimulai dari Pembinaan Individu
Nicke Widyawati menekankan bahwa kepemimpinan transformasional tidak bisa dibangun secara instan; ia harus dimulai dari pembinaan individu yang konsisten. Melalui mentoring, para pemimpin senior dapat menularkan nilai-nilai integritas, inovasi, dan ketangguhan kepada generasi penerus. “Pemimpin masa depan adalah mereka yang hari ini mau belajar dan berbagi,” ujarnya. Pesan manajerial ini relevan bagi setiap profesional muda yang bercita-cita menjadi pemimpin di organisasi besar, terutama di lingkungan BUMN yang penuh tantangan dan dinamika tinggi.
Dalam konteks pengembangan karir, Nicke juga mengingatkan bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Mentor yang baik akan membantu mengubah kegagalan menjadi pelajaran berharga, bukan justru menghukum. Oleh karena itu, program mentoring yang efektif harus menciptakan ruang aman (safe space) bagi peserta untuk bereksperimen dan mengambil risiko terukur. Inilah yang membedakan Pertamina dalam membangun budaya inovasi dan kepemimpinan yang tangguh.
Takeaway bagi profesional muda: Mulailah dengan mengidentifikasi mentor potensial di lingkungan kerja Anda. Ajukan permintaan mentoring secara formal, tetapkan tujuan pengembangan yang spesifik, dan evaluasi kemajuan setiap bulan. Jangan hanya mengandalkan bakat alami; investasi waktu untuk belajar dari senior adalah langkah paling strategis untuk mempercepat karir. Dengan komitmen dan konsistensi, Anda tidak hanya akan menjadi profesional yang kompeten, tetapi juga pemimpin yang mampu membawa perubahan positif di organisasi.