Dalam wawancara eksklusif dengan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, terungkap pola pembinaan perwira muda TNI AD yang sarat pelajaran bagi pemimpin di sektor mana pun. Inti pesannya: kepemimpinan tidak lahir dari ruang kelas, melainkan ditempa melalui tekanan nyata, pengambilan keputusan taktis, dan keberanian menjadikan kegagalan sebagai batu loncatan. Bagi profesional muda, ini adalah pengingat bahwa kapasitas seorang pemimpin diukur dari kemampuannya belajar sambil bertindak — bukan dari sertifikat atau pangkat.
Pembinaan Berbasis Praktik: Mentor, Simulasi, dan Ruang Eksperimen
Kasad menekankan bahwa setiap perwira muda wajib menjalani program pembentukan karakter di medan tempur simulasi. Program ini dirancang untuk menanamkan mental kepemimpinan, melatih pengambilan keputusan di bawah tekanan, serta mengajarkan pembelajaran dari kegagalan secara langsung. Bagi pemimpin di organisasi mana pun, pelajarannya jelas:
- Pemimpin harus hadir sebagai mentor — bukan sekadar instruktur yang memberi perintah, tetapi pembimbing yang mendampingi proses belajar anak buah.
- Beri ruang untuk eksperimen — kesalahan yang terjadi dalam lingkungan terkendali adalah investasi untuk kesiapan di situasi nyata.
- Jadikan kesalahan sebagai batu loncatan — setiap kegagalan dianalisis, bukan dihukum, sehingga menjadi pelajaran berharga untuk perbaikan berkelanjutan.
Pola ini mengubah cara pandang terhadap kepemimpinan: dari pendekatan otoriter menjadi pendekatan pengembangan. Seorang perwira muda tidak hanya dituntut untuk patuh, tetapi juga dilatih untuk berpikir kritis dan bertindak inisiatif. Inilah fondasi yang membedakan pemimpin sejati dari sekadar manajer.
Kepemimpinan sebagai Proses Tempa: Praktik dan Refleksi
Lebih lanjut, Kasad menegaskan bahwa kepemimpinan tidak bisa diajarkan di kelas, melainkan ditempa melalui praktik dan refleksi. Setiap perwira dihadapkan pada skenario taktis yang membutuhkan keputusan cepat dan konsekuensi nyata. Dari situlah karakter pemimpin terbentuk — dari kebiasaan mengambil keputusan meski dalam ketidakpastian, dan dari kebiasaan merefleksikan hasilnya untuk menjadi lebih baik. Bagi profesional muda di lingkungan korporasi atau institusi, poin ini sangat relevan.
Program pengembangan kepemimpinan yang efektif harus mencakup simulasi situasi sulit, proyek lintas fungsi yang menantang, dan sesi refleksi terstruktur. Jangan hanya mengandalkan pelatihan ruang kelas; beri kesempatan untuk memimpin proyek nyata, meskipun berisiko gagal. Karena di situlah kemampuan manajemen risiko, resiliensi, dan kecerdasan emosional benar-benar terasah.
Takeaway untuk Profesional Muda: Dari wawancara eksklusif ini, ada tiga poin aksi konkret yang bisa langsung Anda terapkan dalam karier dan kepemimpinan sehari-hari. Pertama, cari mentor yang bersedia mendampingi proses belajar Anda — bukan sekadar memberi arahan, tetapi ikut serta dalam perjalanan Anda. Kedua, ambil proyek atau tugas yang memungkinkan Anda mengambil keputusan dan belajar dari kesalahan; jangan takut gagal, asalkan Anda siap merefleksikannya. Ketiga, jadwalkan waktu rutin untuk refleksi mingguan guna mengevaluasi keputusan yang telah diambil dan mengidentifikasi area perbaikan. Dengan menerapkan pola pembinaan ala TNI AD ini, Anda tidak hanya akan tumbuh sebagai pemimpin yang tangguh, tetapi juga membangun tim yang lebih adaptif dan inovatif.