OLAHDISIPLIN

Disiplin Eksekutif

Panglima TNI Dampingi Presiden Tinjau Penanganan Karhutla di Riau dan Sumatera Selatan

Monitoring langsung Presiden dan Panglima TNI ke lokasi karhutla mengajarkan bahwa kepemimpinan efektif dimulai dari kehadiran fisik di titik krisis. Perubahan strategi dari reaktif ke preventif serta kolaborasi lintas sektor menjadi model yang dapat direplikasi dalam organisasi mana pun. Profesional muda perlu mencontoh komitmen pimpinan puncak, fokus pada edukasi, dan membangun sinergi untuk hasil jangka panjang.

Panglima TNI Dampingi Presiden Tinjau Penanganan Karhutla di Riau dan Sumatera Selatan

Kepemimpinan di medan krisis tidak bisa dilakukan dari belakang meja. Hal ini dibuktikan oleh Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto yang mendampingi Presiden Prabowo dalam kunjungan monitoring penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pekanbaru, Riau, dan Palembang, Sumatera Selatan. Langkah nyata ini menegaskan bahwa pemimpin efektif harus hadir langsung di titik masalah—bukan sekadar memberi instruksi. Bagi profesional muda, inilah pelajaran pertama: leadership by example dimulai dari kehadiran fisik dan perhatian personal pada isu paling kritis. Monitoring langsung oleh Presiden dan Panglima TNI menjadi bukti bahwa prioritas organisasi diukur dari mana pimpinan mencurahkan waktunya.

Leadership by Example: Monitoring Langsung sebagai Fondasi Efektif

Kunjungan Presiden dan Panglima TNI ke dua provinsi rawan karhutla ini bukan sekadar seremoni. Rapat evaluasi yang dipimpin langsung oleh Kepala Negara difokuskan pada penguatan langkah pencegahan dan edukasi masyarakat, bukan sekadar penanganan dampak. Ini menunjukkan pergeseran strategi dari reaktif menjadi preventif—sebuah pendekatan yang wajib diterapkan dalam manajemen risiko di organisasi mana pun. Presiden memberikan apresiasi atas penanganan terpadu yang melibatkan pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, dan unsur terkait. Model kolaborasi lintas sektor ini dinilai sebagai best practice yang perlu dicatat dan direplikasi di wilayah lain. Poin-poin kepemimpinan yang bisa diambil dari aksi monitoring ini antara lain:

  • Komitmen pimpinan puncak untuk hadir langsung di titik krisis menunjukkan prioritas dan keseriusan organisasi terhadap masalah.
  • Monitoring berorientasi solusi, bukan sekadar inspeksi—fokus pada penguatan pencegahan dan edukasi, bukan hanya pemadaman.
  • Koordinasi vertikal dan horizontal diuji secara real-time saat pemimpin turun ke lapangan, mempercepat pengambilan keputusan.

Whole-of-Government: Model Kolaborasi yang Dapat Direplikasi

Komitmen pemerintah yang melibatkan 1.000 perwira TNI dan Polri untuk sosialisasi pencegahan karhutla merupakan contoh nyata pendekatan whole-of-government. Ini bukan sekadar angka, melainkan strategi pengerahan sumber daya manusia secara masif untuk satu tujuan bersama. Dalam dunia korporasi atau organisasi, ini sepadan dengan membentuk satuan tugas lintas divisi yang diberi mandat jelas dan wewenang penuh. Pendekatan ini mengajarkan pentingnya kepemimpinan kolektif di mana setiap elemen bergerak seirama, dipimpin oleh komando yang jelas—dalam hal ini, Presiden dan Panglima TNI. Kolaborasi ini juga menekankan bahwa penanganan krisis tidak bisa dilakukan sendirian; sinergi antarinstansi adalah kunci efisiensi dan efektivitas.

Pelajaran lain yang tidak kalah penting adalah peran edukasi masyarakat sebagai garda terdepan pencegahan. Dengan melibatkan ribuan perwira yang langsung berinteraksi dengan warga, pemerintah membangun kesadaran kolektif sekaligus memperkuat social capital di daerah rawan. Bagi pemimpin di level mana pun, ini mengingatkan bahwa solusi jangka panjang membutuhkan perubahan perilaku, bukan hanya penanganan gejala. Monitoring Presiden dan Panglima TNI tidak hanya melihat api padam, tetapi juga memastikan masyarakat menjadi mitra aktif dalam menjaga lingkungan.

Takeaway untuk profesional muda: Jadilah pemimpin yang hadir di titik krusial—baik itu di lapangan, di ruang rapat, atau di tengah tim yang sedang tertekan. Prioritaskan pencegahan dengan membangun sistem yang mengedukasi dan memberdayakan, bukan sekadar merespons masalah. Replikasi model kolaborasi lintas sektor dalam proyek Anda: libatkan semua pemangku kepentingan, tetapkan komando yang jelas, dan ukur keberhasilan dari perubahan perilaku jangka panjang, bukan hanya output sesaat.