Transisi dari perwira militer menjadi CEO bukan sekadar perubahan jabatan, melainkan uji nyata kemampuan mengadaptasi prinsip kepemimpinan yang teruji di medan operasi ke dalam dunia bisnis. Kolonel (Purn) Dimas Ardianto, alumni Akademi Militer yang kini menjabat CEO sebuah perusahaan logistik nasional, membuktikan bahwa fondasi seperti teamwork before self menjadi modal utama dalam mengelola tim multidisiplin. Dalam wawancara eksklusif, ia membeberkan tiga prinsip manajemen tim yang dipetik langsung dari pengalaman memimpin pasukan, yang relevan bagi setiap profesional muda yang ingin menapaki karir dari perwira menjadi CEO.
Manajemen Tim Adaptif: Kejelasan Peran, Komunikasi & Evaluasi
Menurut Dimas, efektivitas sebuah tim tidak bergantung pada jumlah anggota, melainkan pada kejelasan peran dan saling ketergantungan yang terstruktur. Prinsip pertama yang ia tekankan adalah kejelasan peran dan saling mendukung. Di militer, setiap prajurit tahu persis tugasnya dan bagaimana kontribusinya pada misi keseluruhan. Hal yang sama ia terapkan di perusahaan: setiap karyawan harus memiliki deskripsi pekerjaan yang jelas dan memahami bagaimana pekerjaannya mendukung rekan satu tim. Prinsip kedua adalah komunikasi dua arah tanpa sekat hierarkis. Meskipun militer identik dengan rantai komando, Dimas mendorong semua level untuk berbicara terbuka dalam rapat operasional guna meminimalkan kesalahpahaman dan mempercepat pengambilan keputusan.
Prinsip ketiga yang tidak kalah penting adalah evaluasi rutin setiap akhir misi melalui after action review (AAR) yang diadopsi dalam bentuk meeting mingguan atau bulanan. Forum ini digunakan untuk mengevaluasi capaian, mengidentifikasi hambatan, dan merumuskan perbaikan. Penerapan prinsip-prinsip ini, yang berakar pada kedisiplinan Akademi Militer, membangun sinergi dan produktivitas tim yang sulit ditandingi.
Mengatasi Hambatan Transisi & Poin Aksi bagi Profesional Muda
Dimas mengakui bahwa adaptasi dari budaya militer ke sektor sipil penuh tantangan, terutama dalam mengubah gaya komunikasi tanpa kehilangan ketegasan. Di militer, perintah diberikan secara langsung dan singkat; di bisnis, ia harus belajar mendengarkan lebih banyak, menggunakan pendekatan persuasif, dan tetap mempertahankan otoritas. Ia menyarankan para profesional muda yang bercita-cita menjadi CEO untuk tidak hanya fokus pada kompetensi teknis, tetapi juga mengasah kemampuan interpersonal dan adaptasi budaya.
Berikut adalah tiga poin kepemimpinan yang bisa langsung diterapkan oleh siapa pun yang ingin membangun manajemen tim yang solid:
- Bangun fondasi tim yang solid sejak awal. Pastikan setiap anggota tim memahami perannya dan bagaimana kontribusinya terhadap tujuan bersama. Gunakan prinsip teamwork before self untuk menumbuhkan loyalitas dan kolaborasi.
- Terbuka terhadap umpan balik. Hilangkan sekat hierarkis dalam diskusi strategis. Dorong anggota tim untuk menyuarakan ide dan kekhawatiran tanpa rasa takut, guna memperkaya perspektif dan mencegah keputusan yang bias.
- Jadikan evaluasi sebagai budaya. Lakukan review berkala—baik setelah proyek besar maupun rutinitas harian—untuk mengidentifikasi perbaikan berkelanjutan dan memastikan tim tetap berada di jalur yang benar.
Takeaway bagi profesional muda: Mulailah dengan mendefinisikan peran setiap anggota tim secara eksplisit, buka saluran komunikasi tanpa sekat, dan jadwalkan evaluasi mingguan singkat untuk mereview kemajuan. Dengan melakukan tiga langkah ini, Anda telah mengadopsi prinsip kepemimpinan yang terbukti efektif di medan operasi dan dunia bisnis. Inilah peta jalan nyata untuk menguasai manajemen tim dan mempercepat karir dari perwira menjadi CEO.