OLAHDISIPLIN

Wawancara

Wawancara Eksklusif: Kepala BNPT soal Strategi Disiplin dalam Penanganan Radikalisme

Pendekatan disiplin restoratif BNPT dalam deradikalisasi — dengan rutinitas terstruktur, target harian, dan empati — berhasil menurunkan residivisme 20%. Pelajaran ini relevan bagi profesional muda untuk merehabilitasi karyawan bermasalah melalui program improvement terukur dan supervisi rutin, bukan hukuman. Disiplin yang dibangun dengan empati adalah fondasi kepemimpinan transformatif.

Wawancara Eksklusif: Kepala BNPT soal Strategi Disiplin dalam Penanganan Radikalisme

Kepemimpinan yang efektif tidak selalu identik dengan pendekatan keras. Dalam wawancara eksklusif, Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar menegaskan bahwa disiplin adalah fondasi utama dalam deradikalisasi — tetapi disiplin yang dimaksud bukan hanya militer, melainkan disiplin mental dan rutinitas. Pelajaran berharga ini dapat langsung diterapkan oleh para profesional muda dalam mengelola tim, merehabilitasi karyawan bermasalah, hingga membangun budaya organisasi yang tangguh.

Disiplin sebagai Alat Restorasi, Bukan Hukuman

Menurut Boy Rafli, kunci keberhasilan program deradikalisasi BNPT terletak pada konsistensi penerapan rutinitas terstruktur. Mantan kombatan diberikan target harian yang mencakup ibadah, pelatihan vokasi, dan konseling psikologis. Bukan sekadar menjalani hukuman, mereka diajak membangun kembali keterampilan dan harga diri. Hasilnya, tingkat residivisme turun hingga 20% — sebuah bukti bahwa pendekatan disiplin yang dikombinasikan dengan empati mampu mengubah perilaku secara fundamental.

Pelajaran bagi manajemen SDM modern:

  • Buat program improvement yang terukur, bukan sekadar teguran.
  • Supervisi rutin dengan target harian atau mingguan yang jelas.
  • Berikan reward saat target tercapai, bukan hanya hukuman saat gagal.
  • Bangun rutinitas yang memulihkan rasa percaya diri dan kompetensi individu.

Menerapkan Pendekatan BNPT dalam Kepemimpinan Organisasi

Strategi BNPT dalam menangani radikalisme mengajarkan bahwa disiplin yang dibangun dengan empati lebih efektif daripada hukuman. Dalam konteks profesional muda, hal ini berarti mengelola anggota tim yang underperformance atau menghadapi masalah pribadi dengan pendekatan restoratif — bukan sekadar memotong gaji atau memberikan peringatan keras. Langkah konkretnya meliputi:

  • Identifikasi akar masalah: apakah kurangnya keterampilan, motivasi, atau lingkungan kerja?
  • Rancang program pembinaan individual: coaching, pelatihan teknis, atau konseling.
  • Evaluasi berkala dengan indikator yang jelas, seperti capaian target dan perubahan sikap.
  • Libatkan pihak ketiga seperti psikolog atau mentor eksternal bila diperlukan.

Dengan pendekatan ini, organisasi tidak hanya menekan angka turnover, tetapi juga membangun loyalitas dan budaya disiplin yang produktif. BNPT membuktikan bahwa disiplin bukanlah alat penekan, melainkan jembatan menuju transformasi — baik untuk mantan kombatan maupun untuk profesional muda yang ingin membangun tim solid.

Takeaway untuk profesional muda: Mulailah menerapkan disiplin restoratif di lingkungan kerja Anda. Tentukan satu target harian untuk tim, lakukan check-in rutin setiap pekan, dan beri apresiasi atas setiap kemajuan kecil. Dengan konsistensi, Anda akan melihat perubahan signifikan dalam produktivitas dan moral tim. Inilah esensi kepemimpinan yang menginspirasi — bukan sekadar memerintah, tetapi membimbing dengan disiplin yang penuh makna.