Dalam wawancara eksklusif, Letjen (Purn) Doni Monardo membongkar formula membangun tim elit yang solid — bukan sekadar teori kepemimpinan militer, melainkan praktik lapangan yang telah teruji saat ia memimpin operasi penanggulangan bencana di Sulawesi. Inti dari pendekatannya sederhana namun mendalam: tim hebat lahir dari pemimpin yang berani mendengar, memberi ruang inovasi, dan menjunjung tinggi kepercayaan. Bagi profesional muda yang ingin membangun tim berkinerja tinggi, tiga pilar berikut menjadi fondasi yang wajib diterapkan.
Tiga Pilar Fondasi Tim Elit
Doni Monardo menegaskan bahwa setiap tim elit — baik di dunia militer maupun korporasi — berdiri di atas tiga pilar utama: kepercayaan, kompetensi, dan komunikasi dua arah. Ketiganya saling menguatkan dan harus dibangun secara simultan. Berikut rinciannya:
- Kepercayaan: Tanpa kepercayaan, tim hanya sekadar kumpulan individu. Doni mencontohkan saat memimpin operasi di Sulawesi, ia membangun kepercayaan dengan menunjukkan konsistensi antara ucapan dan tindakan. Pemimpin harus menjadi teladan dalam integritas dan komitmen.
- Kompetensi: Setiap anggota tim harus memiliki keahlian yang relevan. Namun Doni menekankan bahwa kompetensi bukan hanya soal kemampuan teknis, melainkan juga kemampuan beradaptasi dan belajar cepat. Tim elit dibentuk dari individu yang terus mengasah diri.
- Komunikasi Dua Arah: Doni selalu melakukan briefing harian tanpa formalitas berlebihan. Ia mengundang masukan dari semua level, mendorong diskusi terbuka, dan memastikan setiap suara didengar. Komunikasi yang efektif mencegah misinformasi dan membangun sinergi.
Menghindari Jerat Hierarki Kaku
Satu kritik tajam yang dilontarkan Doni dalam wawancara ini adalah terhadap budaya kerja yang terlalu hierarkis di banyak perusahaan. Ia menilai bahwa hierarki berlebihan justru membunuh inisiatif dan kreativitas. Dalam konteks kepemimpinan militer sekalipun, ia membuktikan bahwa pemimpin yang efektif tidak bersembunyi di balik pangkat, melainkan turun langsung ke lapangan. Pesan ini sangat relevan bagi eksekutif muda yang sering terjebak pada protokol dan birokrasi.
Doni menekankan bahwa pemimpin harus berani mendobrak sekat-sekat formal jika itu menghambat kinerja. Ia mencontohkan ketika ia membuka akses langsung bagi anggota tim untuk menyampaikan ide tanpa harus melalui rantai komando panjang. Hasilnya, tim lebih responsif dan inovatif dalam menghadapi krisis. Pelajaran bagi profesional muda: jadilah pemimpin yang meruntuhkan tembok hierarki, bukan yang memperkuatnya.
Takeaway untuk Profesional Muda: Mulailah dengan membangun kepercayaan melalui konsistensi dan keteladanan. Investasikan waktu untuk mengembangkan kompetensi tim secara berkelanjutan. Praktikkan komunikasi dua arah — dengarkan lebih banyak, bicaralah lebih sedikit, dan beri ruang bagi anggota tim untuk berinovasi. Evaluasi budaya hierarki di tempat Anda bekerja: apakah ia mempercepat atau justru memperlambat kolaborasi? Dengan menerapkan ketiga pilar ini, Anda tidak hanya membangun tim elit, tetapi juga menciptakan fondasi kepemimpinan yang tangguh dan adaptif.