Dalam wawancara eksklusif dengan Olah Disiplin, Letjen TNI (Purn) Doni Monardo menegaskan bahwa mentalitas petarung adalah fondasi yang membedakan pemimpin tangguh dari pemimpin biasa. Baginya, ketahanan mental bukan bawaan lahir, melainkan hasil latihan dan pembiasaan yang relevan bagi siapa pun yang ingin membangun karier solid. Pelajaran ini menjadi semakin penting bagi profesional muda yang kerap menghadapi tekanan target, ketidakpastian, dan persaingan ketat.
Mentalitas Petarung: Dibentuk, Bukan Bawaan Lahir
Doni membagikan pengalamannya memimpin operasi penanggulangan bencana di Lombok dan Palu. Di tengah kekacauan, seorang pemimpin dituntut tetap tenang, berpikir jernih, dan bergerak cepat. “Seorang pemimpin harus tetap tenang, berpikir jernih, dan bergerak cepat meskipun situasi kacau,” ujarnya. Untuk membangun mentalitas petarung, ada langkah strategis yang bisa langsung diterapkan:
- Latihan rutin – Biasakan diri menghadapi skenario sulit, baik lewat simulasi maupun tantangan kerja nyata.
- Evaluasi diri – Analisis setiap kegagalan secara objektif untuk menemukan akar masalah dan solusi perbaikan.
- Membangun jejaring suportif – Lingkungan yang positif dan saling menguatkan akan memperkuat ketahanan mental.
Doni mengingatkan bahwa mentalitas petarung tidak identik dengan agresivitas. Justru, ia berarti pantang menyerah saat menghadapi rintangan. “Kegagalan bukan akhir, melainkan umpan balik untuk menjadi lebih baik,” tegasnya. Prinsip ini menegaskan bahwa ketangguhan mental adalah kompetensi manajerial yang bisa diasah, bukan karakter statis.
Budaya Evaluasi: Kunci Bertumbuh dari Kegagalan
Dalam wawancara ini, Doni menyoroti pentingnya budaya evaluasi setelah setiap kegagalan. Tim BNPB selalu melakukan after action review usai penanganan bencana. “Kami tidak hanya melihat apa yang salah, tetapi juga apa yang bisa dipertahankan dan ditingkatkan,” jelasnya. Bagi profesional muda, praktik ini dapat diterjemahkan menjadi kebiasaan konkret:
- Menyusun jurnal refleksi – Catat setiap pengalaman, terutama saat gagal, dan tuliskan pelajaran yang diperoleh.
- Mendapatkan mentor – Diskusikan kegagalan dengan atasan atau rekan senior untuk mendapatkan perspektif baru.
- Merancang rencana perbaikan – Dari hasil evaluasi, buat langkah konkret untuk menghindari kesalahan serupa di masa depan.
Doni menekankan bahwa kegagalan adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan karier. Yang membedakan bukan besar kecilnya kegagalan, melainkan bagaimana kita bangkit dan belajar darinya. “Pemimpin sejati adalah mereka yang terus bertumbuh melalui setiap tantangan,” pungkasnya. Mentalitas petarung dan kebiasaan evaluasi tidak hanya membangun ketahanan, tetapi juga membuka peluang inovasi dan kemajuan.
Untuk profesional muda, aksinya sederhana: mulailah hari ini dengan menyisihkan waktu 15 menit setiap minggu untuk merefleksikan satu tantangan atau kegagalan yang terjadi. Tuliskan apa yang berjalan salah, apa yang bisa dipertahankan, dan satu langkah perbaikan untuk pekan berikutnya. Konsistensi kecil ini akan membentuk mentalitas petarung yang kokoh dan kesiapan memimpin di level yang lebih tinggi.