OLAHDISIPLIN

Wawancara

Wawancara Eksklusif: Letjen (Purn) Doni Monardo tentang Resiliensi Kepemimpinan

Wawancara eksklusif dengan Letjen (Purn) Doni Monardo mengungkap bahwa resiliensi kepemimpinan berakar pada adaptasi cepat, komunikasi krisis, dan perawatan mental tim. Tiga pilar ini bisa langsung diterapkan profesional muda melalui simulasi tekanan tinggi dan jaringan dukungan. Intinya, resiliensi adalah skill yang dilatih, bukan bawaan, dan setiap kegagalan kecil adalah data berharga untuk memperkuat kepemimpinan.

Wawancara Eksklusif: Letjen (Purn) Doni Monardo tentang Resiliensi Kepemimpinan

Dalam wawancara eksklusif dengan Olah Disiplin, Letjen (Purn) Doni Monardo, mantan Kepala BNPB, menegaskan bahwa resiliensi kepemimpinan bukan sekadar kemampuan bertahan di tengah badai, melainkan kecepatan beradaptasi dan mengambil keputusan saat tekanan memuncak. Pengalaman memimpin operasi bencana besar mengajarkannya bahwa krisis adalah ujian sejati karakter seorang pemimpin—dan resiliensi bisa dilatih secara sistematis. Bagi profesional muda yang ingin naik kelas, tiga pilar berikut menjadi fondasi yang non-negotiable.

Tiga Pilar Resiliensi ala Doni Monardo

Berdasarkan pengalaman di lapangan, Doni merumuskan tiga prinsip utama yang langsung bisa diadopsi oleh manajer proyek, startup founder, atau siapa pun yang memimpin tim dalam lingkungan volatil:

  • Adaptasi Cepat — Dalam penanganan bencana di Sulawesi, keputusan harus diambil dalam hitungan jam. Pemimpin yang adaptif mampu membaca situasi, mengubah strategi, dan tetap fokus pada tujuan meskipun data belum sempurna. Ini mengajarkan bahwa kesempurnaan adalah musuh kecepatan.
  • Komunikasi Krisis — Informasi yang jelas, transparan, dan tepat waktu menjadi perekat kepercayaan tim dan publik. Doni mencontohkan briefing rutin tiga kali sehari yang menyelaraskan gerak ribuan personel di lapangan. Tanpa komunikasi yang solid, resiliensi hanyalah angan-angan.
  • Perawatan Mental Tim — Pemimpin yang tangguh tidak hanya menjaga dirinya sendiri, tetapi juga memastikan anggota tim tetap sehat secara psikologis. Istirahat terjadwal, pendampingan psikolog, dan ruang curhat menjadi praktik wajib di tengah krisis.

Strategi Membangun Mental Tangguh untuk Profesional Muda

Doni merekomendasikan dua pendekatan praktis yang bisa mulai diterapkan hari ini. Pertama, latihan simulasi tekanan tinggi. Ia mendorong profesional muda untuk sengaja menciptakan skenario krisis—misalnya, menyelesaikan proyek dengan tenggat yang dipangkas 50% atau mempresentasikan ide tanpa persiapan sempurna. “Otak kita perlu terbiasa mengambil keputusan cepat dengan informasi terbatas,” ujarnya. Kedua, membangun jaringan dukungan. Bukan sekadar networking formal, melainkan lingkaran kecil rekan sejawat yang bisa diajak bertukar beban dan perspektif secara jujur. Doni sendiri memiliki kelompok diskusi antarmantan pejabat yang rutin bertukar pengalaman kepemimpinan. Dalam wawancara yang tayang penuh di kanal YouTube Olah Disiplin, Doni juga mengingatkan bahwa resiliensi bukanlah sifat bawaan, melainkan skill yang diasah melalui refleksi harian dan keberanian menghadapi kegagalan kecil. Setiap kegagalan adalah data berharga untuk memperkuat kepemimpinan Anda.

Takeaway aksi: Mulai minggu ini, identifikasi satu area kerja yang paling rentan krisis. Buat simulasi sederhana—ajak tim berdiskusi tentang skenario terburuk dan rencana mitigasinya. Catat keputusan yang Anda ambil, lalu evaluasi. Lakukan ini sebulan sekali untuk menguatkan otot resiliensi Anda. Kepemimpinan tangguh tidak menunggu krisis besar; ia dibangun dari disiplin harian dalam menghadapi tekanan.